Oleh: Deny Rahmad Sikumbang
Pada saat era kejatuhan Presiden Soeharto 1997, saat itu BJ Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden. Otomatis setelah Soeharto mengundurkan diri, Habibie menjadi Plt Presiden Indonesia. Setelah mengemban amanah yang luar biasa berat, di mana terjadi kerusuhan di mana-mana, lepasnya Timor-timur, dan mengembalikan nilai tukar rupiah terhadap dolar dari semula 15.000 menjadi 7000, Menurunkan inflasi dari 76% menjadi kisaran 15-20% (di masa resesi ekonomi), mengembalikan kepercayaan pelaku bursa, IHSG naik hingga 200 poin. Sangat luar biasa pencapaiannya (di luar lepasnya Timor Timur tadi)
Tetapi, sebagian besar rakyat Indonesia waktu itu, termakan oleh hembusan fitnah dari para pengamat dan media, bahwa Habibie adalah perpanjangan tangan Orde Baru, disematkan kata rezim, dihinakan hampir setiap hari. Prestasi beliau yang luar biasa tadi, di luar pencapaian teknologi yang dilakukannya (perintis Sistem Autopilot pesawat, pioner Desainer Airbus, perintis IPTN/ PT DI saat ini, perancang pesawat nasional CN250 dll); seakan tidak ada artinya di masyarakat sat itu. Semua terkait Habibie hina dan jelek. Berujung pada saat Sidang Umum MPR di mana Habibie “menantang” kejujuran anggota MPR, jika LPJ beliau ditolak, maka beliau ikhlas tidak akan maju lagi di Pemilihan Presiden berikutnya, yang akhirnya benarlah, MPR menolak LPJ beliau.
Ada 2 alasan yang ada di antara para penolak, yaitu Karena memang tidak suka dengan Habibie, dan yang kedua menghargai kinerja Habibie, tetapi terbawa arus masyarakat yang sudah teropinikan bahwa Habibie adalah rezim.
Saat ini kita lihat, bagaimana Indonesia menyesal sudah menistakan seorang Habibie, sebagian besar masyarakat merindukan di pimpin oleh beliau, sebagian orang baru melek dengan pencapaian prestasi beliau yang sangat luar biasa. Buku biografi dan Film tentang beliau laris manis. Dukungan dan kebanggan yang nyaris terlambat bagi Indonesiaku.
Tapi itu, hanyalah seorang individu Habibie, bagaimana dengan PKS yang merupakan organisasi massa besar, dan berlabelkan Islam ??
Sama halnya dengan PKS, dengan berbagai renstra perjuangan PKS dan diisi oleh kader-kader yang mumpuni dan shalih, sangat mencemaskan bagi para tikus kotor negeri ini. Sudah berbagai jurus dan tiupan fitnah diterapkan untuk membuat opini “Partai Rusak” diaminkan oleh masyarakat. Hal tersebut mencapai klimaks awal saat penetapan Presiden PKS Luthfi Hassan Ishaq “berencana menggunakan kekuasaannya untuk mengatur Mentan dalam impor Sapi”, yang berhasil menggiring beliau menjadi tahanan KPK 18 tahun. Kalaupun berencana, tapi tidak terealisasi sudah DIPERSALAHKAN. Para guru besar Hukum di Indonesia sudah mempertanyakan independensi KPK dalam penetapan ini, karena beliau bukan penyelenggara negara (UU No.43/1999) dan tidak merugikan negara. Sedangkan KPK ada hanya untuk penyelenggara negara. Tapi KPK tetap pada “misinya”. Lihatlah sekarang harga daging sedang tinggi, dan desakan impor sangat tinggi, kita lihat adakah yang akan ditersangkakan KPK ???
Misi menistakan PKS lewat kasus Impor Sapi, pada hakikatnya untuk menghancurkan rencana PKS yang menargetkan posisi 3 Besar ataupun 15% suara dalam pemilu 2014. Banyak yang bisa diubah menjadi kemaslahatan jika PKS ada di posisi tersebut, dengan kisaran kursi DPR 80-100 kursi. Bahkan target si perancang, Greenberg, dan dibunyikan oleh para pengamat “hitam” adalah PKS tidak boleh mencapai Parliamentary Threshold 3,5%. Sehingga semua suara yang didapat dalam pemilu hangus, dan dibagi rata oleh partai lain yang masuk DPR (seperti PBB dan PKPI yang hangus suaranya).
Setelah kasus Ustadz Luthfi, terjadi periode yang sama dengan saat Habibie, apapun yang dikerjakan PKS, akan dicap jelek, korup, disematkan akronim Partai Korupsi Sapi dll. Mereka sedikit berhasil karena banyaknya masyarakat yang terpengaruh untuk ikut membeo dalam memberikan label tersebut.
PKS jadi sansak empuk yang dihajar dari segala penjuru.
# Yang sekuler menyerang PKS dengan poligami dan korupsi, padahal kalaupun Ustadz Luthfi memang bersalah, kami tetaplah yang paling rendah dalam status pelaku korupsi
# Sebagian warga NU menyerang PKS dengan sematan Wahabi sesat dan suka mengkafirkan orang lain. Faktanya, sebagian petinggi kami, adalah keluarga besar NU, dan ada yang dari kalangan Habaib
# Lucunya, yang Wahhabi malah menuduh PKS dengan sematan Khawarij. Bahkan ada ikhwan Wahhabi yang ingin saya bantu ma’isyah nya, menolak dengan mengatakan saya tidak mau ditolong oleh pengikut Sururriyyah (apa lagi nih grin emoticon )
# Sebagian warga Muhammadiyah menyerang PKS dengan tuduhan mau mengambil alih warganya dan merebut lahan pendidikan. Hal ini cukup aneh, karena walaupun banyak kader PKS mendirikan sekolah, bukankah sampai saat ini kebutuhan akan sarana pendidikan memang masih kurang? Dan kalau soal warga Muhammadiyah menjadi kader PKS, kenapa hanya PKS yang diserang. Jika total warga Muhammadiyah yang ikut Pemilu ada 40% dari warga Indonesia, toh PKS cuma dapat 7%, itupun sebagian pemilihnya bukan Muhammadiyah. PAN juga Cuma 7%, PAN yang diklaim partainya Muhammadiyah dapat 7,5%. Berarti ada 25,5% suara warga Muhammadiyah menyebar di berbagi partai. Kenapa hanya PKS yang rutin dikerdilkan di majalah internal dan kajian oleh segelintir tokohnya ??
# Yang HTI hanya rutin menyerang PKS, agar simpatisan PKS yang sebagian besar muslim tidak ikut Pemilu alias Golput.
# Yang mengaku mantan kader PKS (padahal ngaji pun sering bolong, amanah tidak dikerjakan atau jika diberi amanah malah kabur), menyerang dengan banyaknya petinggi PKS kaya raya. Halooo, apakah nista muslim itu kaya? Bahkan dengan kekayaan, kita bisa bershadaqah lebih banyak. Kalau yang miskin cuma bisa isi keropak Jumat Cuma 1000, itupun pilih uang yang lusuh, kalau kita kaya, kita bisa sumbang 50ribu atau bahkan 100ribu dengan senyuman ikhlas.
Tapi sayangnya para perancang kejahatan tersebut, tidak sukses membuat PKS terjerembab, karena PKS walaupun jumlah kursi menurun, tetap mendapatkan 40 kursi DPR. Sekarang kita lihat jika MEGAPROYEK PENISTAAN PKS waktu itu berhasil, dalam artian PKS suaranya dibawah 3,5% :
Berikut hasil perolehan kursi DPR RI tiap parpol yang diresmikan KPU
1. PDI Perjuangan 109 kursi dari 23.681.471 (18,95%) suara;
2. Golkar 91 kursi dari 18.432.312 (14,75%) suara;
3. Gerindra 73 kursi 14.760.371 (11,81%) suara;
4. Demokrat 61 kursi 12.728.913 (10,19%) suara;
5. Partai Amanat Nasional 49 kursi dari 9.481.621 (7,59%) suara;
6. Partai Kebangkitan Bangsa 47 kursi dari 11.298.957 (9,04%)suara;
7. Partai Keadilan Sejahtera 40 kursi dari 8.480.204 (6,79%) suara;
8. Partai Persatuan Pembangunan 39 kursi dari 8.157.488 (6,53%) suara;
9. NasDem 35 kursi dari 8.402.812 (6,72%) suara;
10. Hanura 16 kursi dari 6.579.498 (5,26%) suara.
Jika asumsi Golkar ikut KMP (Gerindra, PKS, Golkar, Demokrat, PAN), dan PPP ikut KIH (PDIP, PKB, PPP, Nasdem, Hanura), maka peta di Parlemen adalah
KMP = 314 dari 560 Kursi (56 %)
KIH = 246 dari 560 Kursi (44%)
Nah, jika waktu itu PKS tidak mencapai 3,5%, dan suara PKS hangus, asumsi kasar yang bisa kita hitung berdasarkan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) masing-masing dapil, maka komposisi kursi DPR akan berubah (tidak terbagi rata disemua partai karena tergantung sisa suara terhadap BPP Dapil) kira-kira sebagai berikut:
1. PDI Perjuangan 128 kursi
2. Golkar 95 kursi
3. Gerindra 77 kursi
4. Demokrat 62 kursi
5. Partai Amanat Nasional 50 kursi
6. Partai Kebangkitan Bangsa 52 kursi
7. Partai Persatuan Pembangunan 43 kursi
8. NasDem 36 kursi
9. Hanura 17 kursi
Maka komposisi di DPR akan menjadi
KMP = 284 (50,7%)
KIH = 276 (49.3%)
Dengan komposisi seriskan itu, akan sangat mungkin adanya pembelotan dari kader masing-masing koalisi dalam penetapan suatu produk legislasi atau pengesahan APBN, fit n proper tes pejabat negara dll. Hanya butuh 5 orang KMP membelot, maka absolutlah KIH dalam bergerak, baik di yudikatif, legislatif, dan eksekutif.
Itulah mengapa setelah pemilu, si perancang jahat ini, yang melihat kegagalan dalam misi menghancurkan PKS, merasa sangat penting memecah belah partai lain, dan ini nyata terlihat pada Golkar, PPP, dan hampir saja PAN.
Wahai sahabat, itulah mengapa banyak ulama menyerukan hentikan fitnah-fitnah terhadap sesama penyeru dakwah. Bahkan pada suatu kesempatan, Habieb Riziq mengatakan, umat Islam harus bersatu, Futuh saja belum, sudah saling menyikut !
Kalaulah PKS dan partai berbasis Islam lainnya berhasil dihancurkan dan dipecah belah, tak akan ada kemaslahatan yang dihasilkan dan terlihat di negeri ini. Kemudharatan akan meraja lela. Tidak hanya itu, lebih parah lagi, sikap masyarakat akan langsung sinis dan beropini miring terhadap Politisi Islam, yang akan membuat kampanye para sekuleris akan semakin mudah dicapai dan menggapai kemenangan dalam menggeser sendi-sendi Islami menjadi sekuleris.
Dan jika masa itu datang, betapa, penyesalan seperti hal nya penyesalan kita menghinakan Habibie di masa lalu akan sulit kita tebus dan pulihkan.
Kalau mata kita terbuka dan jujur, begitu banyak yang PKS dan kadernya sudah dilakukan di masyarakat, berbagai kegiatan sosial, pematangan moral anak-anak dan remaja, pemberdayaan ekonomi dan lain sebagainya. Hal ini bahkan dilakukan jauh hari diluar jadwal hiruk pikuk kampanye. Bukalah mata kita, untuk saling bahu membahu, anda PKS atau bukan, gerakkan energi dan pikiran kita untuk bersumbangsih bagi umat, tanpa menyikut dan menggerus para pendakwah lainnya. Seharusnya sistem Indonesia, produk perundangan yang dihasilkan, sistem ekonomi yang syar’i sudah bisa kita capai kalau kita bersinergi bukan mendestruksi.
Bahkan ormas Islam masih ada sampai saat ini pun karena dalam UU Ormas, PKS dan partai Islam lainnya sangat mengawal RUU tersebut agar tidak terlalu liberal dan merugikan umat Islam. Peredaran tembakau dan alkohol bisa dikendalikan pun karena kami hadir dan berperan dalam proses pembuatan UU nya, tayangan televisi dengan sensor ketat dan ada levelling umur pemirsa karena kita berhasil melahirkan Komisi Penyiaran Indonesia.
Saat ini, masyarakat Indonesia sedang memasuki periode Pemilukada, mari kita berbenah kawan. Susunlah batu bata bangunan daerah masing-masing dengan bersinergi, bukan ada yang menyusun, tapi ada pula yang menurunkan atau merobohkan pondasinya.
Umat Islam harus Cerdas, Umat Islam harus Sadar akan keterombang-ambingannya selama ini.
Pada saat era kejatuhan Presiden Soeharto 1997, saat itu BJ Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden. Otomatis setelah Soeharto mengundurkan diri, Habibie menjadi Plt Presiden Indonesia. Setelah mengemban amanah yang luar biasa berat, di mana terjadi kerusuhan di mana-mana, lepasnya Timor-timur, dan mengembalikan nilai tukar rupiah terhadap dolar dari semula 15.000 menjadi 7000, Menurunkan inflasi dari 76% menjadi kisaran 15-20% (di masa resesi ekonomi), mengembalikan kepercayaan pelaku bursa, IHSG naik hingga 200 poin. Sangat luar biasa pencapaiannya (di luar lepasnya Timor Timur tadi)
Tetapi, sebagian besar rakyat Indonesia waktu itu, termakan oleh hembusan fitnah dari para pengamat dan media, bahwa Habibie adalah perpanjangan tangan Orde Baru, disematkan kata rezim, dihinakan hampir setiap hari. Prestasi beliau yang luar biasa tadi, di luar pencapaian teknologi yang dilakukannya (perintis Sistem Autopilot pesawat, pioner Desainer Airbus, perintis IPTN/ PT DI saat ini, perancang pesawat nasional CN250 dll); seakan tidak ada artinya di masyarakat sat itu. Semua terkait Habibie hina dan jelek. Berujung pada saat Sidang Umum MPR di mana Habibie “menantang” kejujuran anggota MPR, jika LPJ beliau ditolak, maka beliau ikhlas tidak akan maju lagi di Pemilihan Presiden berikutnya, yang akhirnya benarlah, MPR menolak LPJ beliau.
Ada 2 alasan yang ada di antara para penolak, yaitu Karena memang tidak suka dengan Habibie, dan yang kedua menghargai kinerja Habibie, tetapi terbawa arus masyarakat yang sudah teropinikan bahwa Habibie adalah rezim.
Saat ini kita lihat, bagaimana Indonesia menyesal sudah menistakan seorang Habibie, sebagian besar masyarakat merindukan di pimpin oleh beliau, sebagian orang baru melek dengan pencapaian prestasi beliau yang sangat luar biasa. Buku biografi dan Film tentang beliau laris manis. Dukungan dan kebanggan yang nyaris terlambat bagi Indonesiaku.
Tapi itu, hanyalah seorang individu Habibie, bagaimana dengan PKS yang merupakan organisasi massa besar, dan berlabelkan Islam ??
Sama halnya dengan PKS, dengan berbagai renstra perjuangan PKS dan diisi oleh kader-kader yang mumpuni dan shalih, sangat mencemaskan bagi para tikus kotor negeri ini. Sudah berbagai jurus dan tiupan fitnah diterapkan untuk membuat opini “Partai Rusak” diaminkan oleh masyarakat. Hal tersebut mencapai klimaks awal saat penetapan Presiden PKS Luthfi Hassan Ishaq “berencana menggunakan kekuasaannya untuk mengatur Mentan dalam impor Sapi”, yang berhasil menggiring beliau menjadi tahanan KPK 18 tahun. Kalaupun berencana, tapi tidak terealisasi sudah DIPERSALAHKAN. Para guru besar Hukum di Indonesia sudah mempertanyakan independensi KPK dalam penetapan ini, karena beliau bukan penyelenggara negara (UU No.43/1999) dan tidak merugikan negara. Sedangkan KPK ada hanya untuk penyelenggara negara. Tapi KPK tetap pada “misinya”. Lihatlah sekarang harga daging sedang tinggi, dan desakan impor sangat tinggi, kita lihat adakah yang akan ditersangkakan KPK ???
Misi menistakan PKS lewat kasus Impor Sapi, pada hakikatnya untuk menghancurkan rencana PKS yang menargetkan posisi 3 Besar ataupun 15% suara dalam pemilu 2014. Banyak yang bisa diubah menjadi kemaslahatan jika PKS ada di posisi tersebut, dengan kisaran kursi DPR 80-100 kursi. Bahkan target si perancang, Greenberg, dan dibunyikan oleh para pengamat “hitam” adalah PKS tidak boleh mencapai Parliamentary Threshold 3,5%. Sehingga semua suara yang didapat dalam pemilu hangus, dan dibagi rata oleh partai lain yang masuk DPR (seperti PBB dan PKPI yang hangus suaranya).
Setelah kasus Ustadz Luthfi, terjadi periode yang sama dengan saat Habibie, apapun yang dikerjakan PKS, akan dicap jelek, korup, disematkan akronim Partai Korupsi Sapi dll. Mereka sedikit berhasil karena banyaknya masyarakat yang terpengaruh untuk ikut membeo dalam memberikan label tersebut.
PKS jadi sansak empuk yang dihajar dari segala penjuru.
# Yang sekuler menyerang PKS dengan poligami dan korupsi, padahal kalaupun Ustadz Luthfi memang bersalah, kami tetaplah yang paling rendah dalam status pelaku korupsi
# Sebagian warga NU menyerang PKS dengan sematan Wahabi sesat dan suka mengkafirkan orang lain. Faktanya, sebagian petinggi kami, adalah keluarga besar NU, dan ada yang dari kalangan Habaib
# Lucunya, yang Wahhabi malah menuduh PKS dengan sematan Khawarij. Bahkan ada ikhwan Wahhabi yang ingin saya bantu ma’isyah nya, menolak dengan mengatakan saya tidak mau ditolong oleh pengikut Sururriyyah (apa lagi nih grin emoticon )
# Sebagian warga Muhammadiyah menyerang PKS dengan tuduhan mau mengambil alih warganya dan merebut lahan pendidikan. Hal ini cukup aneh, karena walaupun banyak kader PKS mendirikan sekolah, bukankah sampai saat ini kebutuhan akan sarana pendidikan memang masih kurang? Dan kalau soal warga Muhammadiyah menjadi kader PKS, kenapa hanya PKS yang diserang. Jika total warga Muhammadiyah yang ikut Pemilu ada 40% dari warga Indonesia, toh PKS cuma dapat 7%, itupun sebagian pemilihnya bukan Muhammadiyah. PAN juga Cuma 7%, PAN yang diklaim partainya Muhammadiyah dapat 7,5%. Berarti ada 25,5% suara warga Muhammadiyah menyebar di berbagi partai. Kenapa hanya PKS yang rutin dikerdilkan di majalah internal dan kajian oleh segelintir tokohnya ??
# Yang HTI hanya rutin menyerang PKS, agar simpatisan PKS yang sebagian besar muslim tidak ikut Pemilu alias Golput.
# Yang mengaku mantan kader PKS (padahal ngaji pun sering bolong, amanah tidak dikerjakan atau jika diberi amanah malah kabur), menyerang dengan banyaknya petinggi PKS kaya raya. Halooo, apakah nista muslim itu kaya? Bahkan dengan kekayaan, kita bisa bershadaqah lebih banyak. Kalau yang miskin cuma bisa isi keropak Jumat Cuma 1000, itupun pilih uang yang lusuh, kalau kita kaya, kita bisa sumbang 50ribu atau bahkan 100ribu dengan senyuman ikhlas.
Tapi sayangnya para perancang kejahatan tersebut, tidak sukses membuat PKS terjerembab, karena PKS walaupun jumlah kursi menurun, tetap mendapatkan 40 kursi DPR. Sekarang kita lihat jika MEGAPROYEK PENISTAAN PKS waktu itu berhasil, dalam artian PKS suaranya dibawah 3,5% :
Berikut hasil perolehan kursi DPR RI tiap parpol yang diresmikan KPU
1. PDI Perjuangan 109 kursi dari 23.681.471 (18,95%) suara;
2. Golkar 91 kursi dari 18.432.312 (14,75%) suara;
3. Gerindra 73 kursi 14.760.371 (11,81%) suara;
4. Demokrat 61 kursi 12.728.913 (10,19%) suara;
5. Partai Amanat Nasional 49 kursi dari 9.481.621 (7,59%) suara;
6. Partai Kebangkitan Bangsa 47 kursi dari 11.298.957 (9,04%)suara;
7. Partai Keadilan Sejahtera 40 kursi dari 8.480.204 (6,79%) suara;
8. Partai Persatuan Pembangunan 39 kursi dari 8.157.488 (6,53%) suara;
9. NasDem 35 kursi dari 8.402.812 (6,72%) suara;
10. Hanura 16 kursi dari 6.579.498 (5,26%) suara.
Jika asumsi Golkar ikut KMP (Gerindra, PKS, Golkar, Demokrat, PAN), dan PPP ikut KIH (PDIP, PKB, PPP, Nasdem, Hanura), maka peta di Parlemen adalah
KMP = 314 dari 560 Kursi (56 %)
KIH = 246 dari 560 Kursi (44%)
Nah, jika waktu itu PKS tidak mencapai 3,5%, dan suara PKS hangus, asumsi kasar yang bisa kita hitung berdasarkan BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) masing-masing dapil, maka komposisi kursi DPR akan berubah (tidak terbagi rata disemua partai karena tergantung sisa suara terhadap BPP Dapil) kira-kira sebagai berikut:
1. PDI Perjuangan 128 kursi
2. Golkar 95 kursi
3. Gerindra 77 kursi
4. Demokrat 62 kursi
5. Partai Amanat Nasional 50 kursi
6. Partai Kebangkitan Bangsa 52 kursi
7. Partai Persatuan Pembangunan 43 kursi
8. NasDem 36 kursi
9. Hanura 17 kursi
Maka komposisi di DPR akan menjadi
KMP = 284 (50,7%)
KIH = 276 (49.3%)
Dengan komposisi seriskan itu, akan sangat mungkin adanya pembelotan dari kader masing-masing koalisi dalam penetapan suatu produk legislasi atau pengesahan APBN, fit n proper tes pejabat negara dll. Hanya butuh 5 orang KMP membelot, maka absolutlah KIH dalam bergerak, baik di yudikatif, legislatif, dan eksekutif.
Itulah mengapa setelah pemilu, si perancang jahat ini, yang melihat kegagalan dalam misi menghancurkan PKS, merasa sangat penting memecah belah partai lain, dan ini nyata terlihat pada Golkar, PPP, dan hampir saja PAN.
Wahai sahabat, itulah mengapa banyak ulama menyerukan hentikan fitnah-fitnah terhadap sesama penyeru dakwah. Bahkan pada suatu kesempatan, Habieb Riziq mengatakan, umat Islam harus bersatu, Futuh saja belum, sudah saling menyikut !
Kalaulah PKS dan partai berbasis Islam lainnya berhasil dihancurkan dan dipecah belah, tak akan ada kemaslahatan yang dihasilkan dan terlihat di negeri ini. Kemudharatan akan meraja lela. Tidak hanya itu, lebih parah lagi, sikap masyarakat akan langsung sinis dan beropini miring terhadap Politisi Islam, yang akan membuat kampanye para sekuleris akan semakin mudah dicapai dan menggapai kemenangan dalam menggeser sendi-sendi Islami menjadi sekuleris.
Dan jika masa itu datang, betapa, penyesalan seperti hal nya penyesalan kita menghinakan Habibie di masa lalu akan sulit kita tebus dan pulihkan.
Kalau mata kita terbuka dan jujur, begitu banyak yang PKS dan kadernya sudah dilakukan di masyarakat, berbagai kegiatan sosial, pematangan moral anak-anak dan remaja, pemberdayaan ekonomi dan lain sebagainya. Hal ini bahkan dilakukan jauh hari diluar jadwal hiruk pikuk kampanye. Bukalah mata kita, untuk saling bahu membahu, anda PKS atau bukan, gerakkan energi dan pikiran kita untuk bersumbangsih bagi umat, tanpa menyikut dan menggerus para pendakwah lainnya. Seharusnya sistem Indonesia, produk perundangan yang dihasilkan, sistem ekonomi yang syar’i sudah bisa kita capai kalau kita bersinergi bukan mendestruksi.
Bahkan ormas Islam masih ada sampai saat ini pun karena dalam UU Ormas, PKS dan partai Islam lainnya sangat mengawal RUU tersebut agar tidak terlalu liberal dan merugikan umat Islam. Peredaran tembakau dan alkohol bisa dikendalikan pun karena kami hadir dan berperan dalam proses pembuatan UU nya, tayangan televisi dengan sensor ketat dan ada levelling umur pemirsa karena kita berhasil melahirkan Komisi Penyiaran Indonesia.
Saat ini, masyarakat Indonesia sedang memasuki periode Pemilukada, mari kita berbenah kawan. Susunlah batu bata bangunan daerah masing-masing dengan bersinergi, bukan ada yang menyusun, tapi ada pula yang menurunkan atau merobohkan pondasinya.
Umat Islam harus Cerdas, Umat Islam harus Sadar akan keterombang-ambingannya selama ini.



0 comments:
Post a Comment